MUBA – TEROPONGSUMSEL.COM
Ribuan jamaah memadati tenda dan lapangan Pondok Pesantren (Ponpes) ANNUR di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Kamis (22/10/2026).
Antusiasme jamaah terlihat dalam peringatan Hari Santri Nasional yang dirangkai dengan Haul Masyayikh serta Haflah Khotmil Qur’an angkatan XIII, dengan 100 santri dinyatakan telah menyelesaikan khataman Al-Qur’an.

Jamaah yang hadir berasal dari empat kecamatan, yakni Babat Supat, Sungai Lilin, Lais, dan Keluang. Kegiatan ini juga dihadiri puluhan pimpinan pondok pesantren, para santri, Banser, Pagar Nusa, serta unsur TNI dan Polri.
Turut hadir Wakil Bupati Musi Banyuasin, KH Abdur Rohman Husen, beserta jajaran, Camat Babat Supat Musmulyadi, S.E., M.M., serta Kepala Desa Gajah Mati, Supandi Arif.
Pimpinan Ponpes ANNUR, Abah KH Munawar Samsuri Ahabib, bersama Nyai Nur Istikomah Ahabib, juga hadir mendampingi rangkaian kegiatan. Sejumlah ulama yang turut hadir di antaranya KH Abdul Rouf Marzuqi, KH Nawawi Abdul Aziz, KH Masduqi, dan KH Abdul Muhith Nawawi.
Haflah Khotmil Qur’an angkatan XIII menjadi salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 100 santri yang dinyatakan telah menyelesaikan khataman Al-Qur’an menjadi bukti perjalanan pendidikan keagamaan yang dijalani para santri di lingkungan Ponpes ANNUR.
Khataman Al-Qur’an bukan sekadar penanda selesainya proses membaca kitab suci, tetapi juga diharapkan menjadi awal bagi para santri untuk semakin mendalami, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pendidikan pesantren, para santri diharapkan tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang menjunjung tinggi akhlak, menghormati orang tua dan guru, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam tausiah keagamaan, Abah Mursalim habibi menyampaikan pentingnya mempelajari Al-Qur’an, memahami kandungannya, serta menjadikan ajarannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut pesan yang disampaikan dalam tausiah tersebut, ilmu agama harus berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak. Sebab, keberhasilan pendidikan santri tidak hanya diukur dari banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut diterapkan melalui perilaku, adab, dan kepedulian terhadap sesama.
Peringatan Hari Santri Nasional, menurut pesan yang ditekankan dalam kegiatan itu, juga tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi keilmuan Islam, memperkuat keimanan, serta membentuk karakter generasi muda yang berilmu dan berakhlak mulia.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tertanam dalam diri santri putra maupun putri agar mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan ajaran agama dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para ulama.
Selain memperingati Hari Santri Nasional dan merayakan khataman Al-Qur’an, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan Haul Masyayikh sebagai bentuk penghormatan terhadap para ulama dan guru yang telah berjasa dalam menjaga serta mewariskan ilmu agama.
Tradisi haul menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para masyayikh dalam membimbing umat, mendidik santri, dan mempertahankan tradisi pendidikan Islam dari generasi ke generasi.
Melalui kegiatan ini, Ponpes ANNUR Gajah Mati menegaskan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai moral, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, dan tanggung jawab sosial.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Haul Masyayikh, dan Haflah Khotmil Qur’an angkatan XIII tersebut diharapkan semakin memperkuat semangat para santri untuk mencintai Al-Qur’an, menghormati jasa para ulama, serta mengamalkan ilmu yang diperoleh demi kebaikan umat, bangsa dan negara indonesia.
J.Hendro.P
